Minggu, 21 April 2013





KEMAPANAN ATURAN
“Tidak banyak orang yang dapat dengan tenang mengungkapkan pendapat-pendapatnya yang berbeda dari prasangka-prasangka lingkungan sosial mereka. Kebanyakan orang bahkan tidak mampu membentuk pendapat-pendapat seperti itu”.
 -Albert Einstein –

Albert Einstein
Kalau Anda tak dapat memecahkan suatu masalah, itu mungkin karena Anda terperangkap dalam kemapanan aturan. Kita semua memiliki aturan pola-pola berpikir yang sudah tertanam, yang keliru kita anggap sebagai kebenaran. Aturan-aturan kita itu ter­bentuk secara alami. Dengan sering digunakan, ide-ide menjadi aturan. Kalau kemapanan aturan terbentuk, semua ide yang bertentangan dengan aturan tersebut diabaikan.
Aturan tidaklah selalu buruk. Mereka adalah seperti rel kereta api. Kalau Anda ingin mengikuti aturan, boleh saja. Tetapi seperti tujuan­tujuan yang tidak terjangkau, oleh rel kereta api, ada solusi-solusi yang tak dapat dicapai dengan aturan-aturan kita. Satu-satunya cara untuk sampai ke sana adalah ke luar dari relnya.
Aturan-aturan menghambat pemikiran inovatif karena tampak­nya demikian benar. Mereka sembunyikan berbagai solusi unggul yang ada tetapi di luar kemapanan aturan kita. Solusi-solusi hebat ini hanya akan ditemukan dengan melanggar aturan.
Tak seorangpun kebal terhadap kemapanan aturan. Bahkan Einstein pun selama bertahun-tahun terhambat oleh salah satu prasangkanya. Tetapi baginya, aturan yang melanggar itu tampaknya tak dapat dilanggar.
Mungkin Anda tidak tertarik menemukan hukum-hukum alam, semesta, tetapi masih banyak masalah berat yang harus Anda pecah­kan. Mungkin masalah-masalah Anda . bahkan lebih berat daripada masalah Einstein. Mungkin Anda bersaing dengan orang-orang cerdas di lingkungan yang berubah-ubah setiap kah Anda memikirkannya. Mungkin tantangan Anda tampaknya mustahil. Tetapi ada jawaban­nya — kalau. Anda dapat belajar melanggar aturan.
Hambatan sesungguhnya kalau kita dihadapkan dengan masalah yang mustahil adalah di dalam diri kita sendiri. Pengalaman-penga­laman kitalah, asumsi-asumsi kita yang keliru, separuh kebenaran, penyama-rataan yang salah kaprah, dan kebiasaan-kebiasaan kita, yang menghalangi kita dari solusi-solusi yang brilian. Ide-ide baru yang hebat-hebat, solusi-solusi yang penting itu, ada. Hanya saja, mereka berada di luar pikiran yang muncul. Kalau tidak, pasti sudah ditemukan oleh seseorang. Anda harus melanggar aturan untuk memecahkan masalah-masalah mustahil. (BERSAMBUNG….KE BAGIAN 2)
(Dikutip dari: How to think like Einstein karya: Scott Thorpe)

0 komentar:

Posting Komentar